ARDANASIONAL, JAKARTA- “Manusia dibelakang senjata itulah yang menentukan peranannya, dan mental manusia lah yang menjadi landasan utamanya”.

Banteng Brolok adalah sebutan dari meriam 40 milimeter/Gempur, merupakan sebuah senjata artileri dibuat pada sekitar 1947 sampai 1948, di pabrik senjata Kedung Banteng, Solo, Jawa Tengah.

Meriam itu dinamakan Banteng Blorok karena dua hal. Pertama karena senjata ini dibuat di Kedung Banteng, kemudian corak kelirnya belang-belang, atau disebut juga blorok.

Inspirasi desain Banteng Blorok berasal dari meriam kaliber 40 milimeter Luchtdoel Artilerie/Automatic Gun M-1 AA/40 MM. Dia merupakan senjata antiserangan udara. Benteng Blorok pertama kali digunakan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), untuk menghadapi serangan udara Jepang dalam perang dunia ke II. Karena kalah, akhirnya Benteng Blorok diambil alih oleh Jepang buat menghadapi tentara Inggris dan Amerika Serikat pada 1942 sampai 1945.

Tidak ingin lama-lama dikuasai oleh bangsa asing, pada 1945 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berhasil merebut Benteng Blorok dari tangan Jepang di Surabaya. TKR menggunakan meriam itu untuk menghadapi tentara Inggris dan Belanda di Agresi Militer ke-I.

Benteng Blorok lantas menjadi andalan TKR dalam pertempuran. Pada 18 September 1948, si Blorok digunakan buat menumpas pemberontakan PKI dan Front Demokrasi Rakyat (FDR). Benteng Blorok dikendalikan oleh prajurit Tarumanegara Siliwangi, Mayor Sentot Iskandardinata, di bawah pimpinan Kapten Inf Amir Machmud.

Meriam itu juga dipakai dalam pertempuran melawan Agresi Militer Belanda ke-II di berbagai daerah. Yaitu di Jombang, Peterongan, Tulungagung, Jembatan Ngujang, Sawahan, Kalangbret, Cabe I, dan Gajah Glotan Campur Darat. Saat itu Benteng Blorok dikendalikan oleh Kapten ART M. Kasmani. Benteng Blorok terus dijaga oleh para BKR, karena memang digdaya buat menghadapi musuh.

Karena dianggap sangat berjasa, meriam Benteng Blorok dijaga hingga dipensiunkan. Kini senjata itu dipajang dan mash dirawat di Museum Satriamandala.

Source: