Pada 9 Januari 2013, saya mampir ke Monumen Mastrip yang letaknya di desa Panduman Kecamatan Jelbuk – Jember. Haha.. saya jadi pengen ketawa sendiri bila mengingat tentang Mastrip. Dulu, waktu saya masih SMP, saya pikir Mastrip adalah nama seseorang, ternyata saya salah.

Mastrip dimulai dari kata TRIP, yaitu Tentara Republik Indonesia Pelajar. Embrio dari TRIP adalah BKR Pelajar, yang dibentuk pada 22 Agustus 1945. Mereka dikenal juga dengan nama EX BRIGADE 17 Tentara Pelajar. Sedangkan pihak Belanda menyebut mereka dengan Die Kleintjes TRIP. Usia rata-rata anggota TRIP antara 12 hingga 20 tahun. Mereka masihlah sangat muda, bukan pasukan profesional seperti gurkha, tapi berani bertempur.

Terus apa hubungannya MAS dengan TRIP…?

Mas adalah sapaan umum untuk lelaki, biasanya pada yang lebih tua. Sebutan ini populer di Jawa Timur. Nah, untuk menghargai keberanian para pemuda ini, masyarakat memanggil mereka (para anggota TRIP) dengan sebutan Mas. Jadilah sebutan MASTRIP akhirnya populer di masyarakat.

Oalaaah.. Itu juga dulu saya tidak tahu. Padahal semasa SMP saya memiliki guru sejarah hebat bernama Bu Jua. Beliau adalah guru sejarah favorit saya di SMPN 7 Jember. Mungkin waktu dulu Bu Jua mengajarkan ini, saya sedang ada di bangku paling belakang. Lagi ngiler 🙂

Kenapa monumen Mastrip di Jember ditempatkan di Desa Panduman? Konon kabarnya, di tempat inilah dulu mereka berhasil melawan para penjajah, paska kemerdekaan. Pasukan Mastrip di wilayah Jember dan sekitarnya (termasuk Lumajang) ada dalam satu garis komando, yaitu di Batalyon 4000. Adapun monumen ini dibangun tahun 1965 oleh AMD Marinir.

Perjuangan Kuteruskan Sampai Akhir Zaman

Perjuangan Kuteruskan Sampai Akhir ZamanKalimat ini terukir di sebuah marmer yang letaknya ada di bawah monumen. Sama seperti ciri khas bangunan monumen yang lain, seringkali ada marmer yang berisi teks penjelasan seputar monumen. Slogan tersebut terinspirasi dari sebuah lagu berjudul ‘Temanku Pahlawan’ yang diciptakan oleh Almarhum Bapak Soewandi. Dan kalimat ‘Perjuangan Kuteruskan Sampai Akhir Zaman’ adalah salah satu liriknya.

Yang menarik dari monumen Mastrip adalah lambangnya. Helm baja sebagai latar, dan senjata laras panjang yang diletakkan menyilang dengan pena bulu ayam.

Monumen Yang Tidak Populer

Monumen ini berdiri tepat di pinggir jalan antar kota (Jember – Bondowoso), dan berada di ketinggian tanah. Jika dilihat dari seberang jalan, maka pemandangannya akan tampak seperti pada foto di bawah ini.

Sama sekali tidak ada tanda-tanda akan keberadaan sebuah monumen. Setidaknya papan penunjuk kecil bertuliskan ‘Monumen MASTRIP.’ Jadi, saya tidak menyalahkan orang Jember yang tidak tahu menahu tentang Mastrip, seperti pemahaman saya yang salah (mengenai siapakah Mastrip) ketika saya masih duduk di bangku SMP. Padahal, nama Mastrip dijadikan nama sebuah jalan di wilayah Jember (masuk kecamatan kota), tepatnya di wilayah kampus bumi Tegalboto. Terus terang saja, orang-orang di sekitar saya jauh lebih mengenal Mastri sebagai nama sebuah jalan, daripada latar kesejarahannya.

Kumuh dan Tak Terawat

Sayang sekali, beberapa space dari monumen ini ada yang patah. Bagian-bagian catnya juga sudah banyak yang mengelupas dan warnanya memudar. Selain itu, di beberapa bagian dindingnya ada coretan yang sebenarnya tidak tepat jika dituliskan di sana. Saya sendiri tidak tahu kalau masalah seperti ini siapa yang menangani. Dibandingkan dengan Monumen Palagan Jumerto, Monumen Mastrip terlihat lebih menyedihkan.

Ya benar, memang lebih mudah bagi kita untuk melihat punggung orang lain daripada punggung kita sendiri. Dengan kata lain, adalah sangat mudah menunjukkan kesalahan yang tampak di depan mata. Tapi maksud saya bukan itu. Ini bukan tentang siapa yang salah. Lebih sederhana dari itu, saya hanya ingin membagikan apa yang tampak oleh mata. Syukur-syukur jika nanti ada yang bisa urun rembug serta memiliki impian yang sama. Yaitu, melihat monumen ini tampak lebih baik dan terawat.

Baru pada 1 Januari 2013 yang lalu Jember merayakan Hari Jadinya yang ke 84. Salah satu acara yang digelar adalah diselenggarakannya Jalan Gembira (6 Januari 2013) yang diikuti oleh ribuan warga. Acara yang sederhana, menarik dan menyehatkan. Saya suka. Dan saya akan lebih berbahagia lagi jika penyelenggara daerah kota kecil ini menaruh sedikit perhatian pada saksi bisu perjalanan sejarah Kota Jember.

Dirgahayu Jember…

Source : Kompasiana