TRIP DAN BLITAR SULIT DIPISAHKAN 2

Secara singkat, penduduk/rakyat Blitar, bukanlah sekedar embel-embel dari perjuangan bersenjata, dan bukan sekedar pembantu-pem-bantu pasif, bahkan mereka patut kita anggap sebagai “Strijtmakkers” dari pasukan TRIP.

Akhirnya kita mengakui tanpa bantuan mereka di desa-desa, termasuk para pemuda pelajar serta para intelektuil dan para Dokter di kota, pasukan TRIP tak mungkin bisa bertahan. Tanpa partisipasi dari penduduk di kota, dan rakyat di desa-desa, tak mungkin menjelang “cease fire” TRIP bisa menduduki kota Blitar.

Pernah kira-kira akhir bulan Juli 1948 dan Kie IV TRIP Ismail Kartasasmita memberikan brifing pada para Dan Ton, staf Kie dan kelompok sneipers, maksudnya menjelaskan tentang hari “H” cease fire, karena keharusan situasional, harus ada unit pemerintahan militer RI di daerah Blitar: Setelah selesai brifing dan Kie minta siapa diantara yang hadir bersedia menjadi Komandan ODM (Order Distrik Militer), yang nantinya mewakili pemerintah RI secara resmi.

Oleh karena lama ditunggu tidak ada jawaban, maka Dan Kie memerintahkan Soewarno (Manuk) selaku Dan ODM, Soerjadi selaku Ass. Wedana, dan Soenardi selaku petugas Palang Merah kompie selaku Manteri Kesehatan. Akhirnya hari “H”, ODM Blitar semua sesuai dengan rencana operasi. Tanpa bisa dihalangi oleh Majoor Infanteri Haak, Bupati NICA Soenarjo, serta Dan IV Gluitenant Hogevorscht, maka pagi harinya sang saka Merah Putih untuk pertama kali berkibar secara resmi dimuka Kantor ODM Blitar, dengan papan nama ODM di muka kantor dengan dikawal oleh prajurit-prajurit TRIP yang tampak masih muda belia.

Karena ODM di jabat oleh prajurit TRIP yang muda dan gagah inilah, maka mulai pagi sampai petang ramai dikun¬jungi oleh cewek-cewek cantik serta ibu-ibu untuk menyampaikan kegembiraan mereka. Bahkan Bupati NICA Soenarjo pun Markas Trip Di Blitarikut datang dan menyalami pejabat-pejabat ODM. Sejak itulah hampir semua ODM di kota Blitar dan sekitarnya diserahkan pada TRIP. Pemerin¬tahan Militer kawedana Srengat-pun diserahkan

pada TRIP. Bahkan Pimpinan KDM-pun dise¬rahkan pada Mas Isman.

Ulasan-ulasan di atas sekedar gambaran bahwa kota Blitar dan TRIP itu sulit dipisahkan. Untuk itu meletusnya gunung Kelud, bisa dimengerti kalau keluarga besar TRIP merasa terpanggil untuk membantu Warga Blitar dalam menanggulangi musibah akibat meletusnya gunung Kelut. Sehingga diperlukan membuat dompet Gunung Kelut melalui Buletin Mas TRIP.

Oleh karena itu tepat kiranya kalau untuk tahun 1992 ini, bulan Nopember 92 yang akan datang TRIP mengadakan REUNI di Kota BLITAR dan sekaligus akan mempersembah¬kan sebuah Gedung Perpustakaan Mas TRIP kepada rakyat Blitar, semua ini sebagai balas budi kepada rakyat kota Blitar.

Kota Blitar memang daerah yang pernah menanamkan tonggak kekuatan bersama rakyat ikut menegakkan RI, mulai WLINGI diujung timur, TALUN, GA RUM, kota BLITAR sampai SRENGAT di sebelah barat.

Dan keutara NGLEGOK, PENATARAN, GLEDUK, NGORAN, SALAM, KEDA¬WUNG sampai semua lereng GUNUNG KELUT, sampai CANDI SEWU, SUMENUR, dan KALI KUNING atau GANDUSARI sebelah TALUN/WLINGI, dan membentang ketimur sampai SLUMBUNG sebelah barat KALILEKSO. Untuk itu kami kirimkan

SALAM HANGAT UNTUK PENDUDUK/RAKYAT BLITAR DARI MAS TRIP.

Selesai