Jakarta – Destry Damayanti tak pernah menyangka dirinya akan duduk di kursi BI-2 sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS). Karena waktu kecil ia adalah seorang atlet tenis, ya tenis! Kegiatan yang tak ada hubungannya sama sekali dengan dunia ekonomi.

Dia memang dilahirkan di keluarga yang gemar berolahraga. Kakak-kakaknya sudah lebih dulu bermain tenis dan memiliki pelatih.

Perempuan berzodiak Sagitarius ini sering berlatih tenis sendiri untuk mengasah kemampuannya. “Waktu itu umur 9 tahun main tenis, saya kepingin aja. Kebetulan bapak juga suka olahraga, saya punya kakak cewek dan cowok sudah main duluan, mereka jago banget. Nah saya ini anak bawang, nggak dianggap. Ya saya main sendiri saja,” kenang Destry saat berbincang dengan detikcom.

“Saya waktu itu menang se-Indonesia tuh. Nah dari situ mulai suka banget sama tenis. Sampai saya lanjut sampai ikut yang senior seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) sampai Sea Games juga,” tutur Destry.

Di suatu hari, Destry akhirnya harus memilih antara tenis dan sekolah, ia memantapkan hatinya untuk menyiapkan diri belajar untuk Sipenmaru di Universitas Indonesia (UI). Destry masuk jurusan Ilmu Ekonomi, Konsentrasi Uang dan Bank.

Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ia pilih lantaran, dirinya tak mau belajar lebih giat lagi. “Saya pilih IPS karena suka yang kuantitatif, ya paling nggak bahasa Inggris saya nggak jelek-jelek amat waktu itu. Kalau IPA kan harus belajar lagi, akhirnya keterima di FE UI,” imbuh dia.

Menurut Destry, dari olahraga dia mendapatkan banyak pelajaran yang ia terapkan hingga sekarang. Misalnya, ia jadi memiliki mental yang sportif. Ia lebih terlatih untuk menghadapi kekalahan dan kemenangan. Dia menyebut, sama dengan kehidupan yang kadang kalah dan menang, tergantung dari cara kita sendiri menyikapinya.

Cinta Ekonomi

Perempuan yang hobi fotografi ini mengaku sangat mencintai dunia ekonomi, apalagi saat ia diterima di FE UI. Jadi pelajaran terkait ekonomi makro sampai mikro sangat ia gemari.

Seperti pelajaran ekonomi makro, Destry selalu mengantongi nilai A. Kemudian mata pelajaran ekonometri adalah hal yang ia sukai, karena terkait dengan modelling dan melihat perilaku ekonomi dengan analisis. “Dulu ibu maunya saya ambil akuntansi, alasannya karena cari kerjaanya gampang, ekonom waktu itu belum dilihat seperti sekarang,” ujar dia.

Ia memulai karirnya saat masih menjadi mahasiswi di UI. Ia menjadi asisten dosen dan asisten peneliti di Harvard Institute for International Development (HIID).

Lulus dari UI pada 1989, Destry langsung melanjutkan sekolah di Cornell University jurusan Regional Science. Lulus tiga tahun kemudian, Destry mengabdi di Kementerian Keuangan. Saat itu ia ditempatkan di Badan Analisa dan Keuangan Moneter sekarang Badan Kebijakan Fiskal (BKF).

Sesuai dengan jurusan sekolah, Destry mengerjakan keuangan daerah. “Jadi waktu itu mau otonomi daerah, jadi mau dilihat bagaimana kesiapan daerah, bagaimana pembiayaan perkotaan dan sebagainya. Saya di situ sekitar 5 tahun mengerjakan analisa, riset dan saya enjoy banget di situ. Hingga pada suatu titik saya mau yang beda, waktu itu kan di goverment belum sebaik sekarang akhirnya ia memutuskan untuk cari tempat lain yakni di Citibank menjadi ekonom,” ujar dia.

Saat itu ia tidak terbayang seperti apa pekerjaan ekonom. Ia hanya bermodalkan kebijakan makro, fiskal, moneter, bank dan keuangan. Namun usai interview dan ia diterima menjadi economist, kebijakan makro secara umum yang ia pelajari ternyata memberikan banyak pengetahuan baru untuknya.

Setelah dari Citibank 3,5 tahun, ia kemudian mendapatkan tawaran menjadi economics advisors dari duta besar Inggris untuk Indonesia. Dia menangani goverment economics. Tiga tahun bekerja di kedubes Inggris, Destry dihadapkan pada pilihan karir dan keluarga, yang kemudian dia memilih keluarga sebagai yang utama.

“Saya pilih keluarga, anak perempuan saya waktu itu petenis, dia sudah mulai tur di umurnya yang ke 12 tahun. Saya harus mendampingi dia, dia tur ke luar kota, ke luar negeri. Jadi pelatih, manager, sparing partner, orang tuanya, urusin makan dia segala macam totally different selama 1,5 tahun seperti itu,” jelas dia.

Sampai akhirnya, putri Destry memilih untuk kembali melanjutkan sekolah dan meninggalkan dunia atlet. Kemudian Destry kembali bekerja sebagai ekonom di Mandiri Sekuritas. Ia membidangi fixed income, equity market, obligasi dan ekonomi makro.

Lima tahun kemudian, Destry dipanggil oleh Bank Mandiri untuk mengurusi segmen industri dan regional. Lama di Bank Mandiri, Destry menjadi staf khusus di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Karir Destry bisa dibilang moncer. Ia juga sempat ditunjuk sebagai ketua panitia seleksi (Pansel) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Awalnya Destry menolak, karena ia ragu latar belakang yang ia miliki tak sesuai dengan bidang yang akan ia kerjakan. Apalagi tekanan politik sangat besar saat itu.

“Sore ditelpon dari Istana dikasih tau kalau saya ketuanya, anggotanya siapa saja. Pokoknya tim Srikandi aja. Akhirnya saya berangkat pelantikan dari rumah sakit waktu itu lagi dirawat kena demam berdarah,” ujarnya.

Setelah dari KPK, Destry kembali ke Bank Mandiri. Namun belum sempat duduk di kursinya, ia dikabarkan mendapat penugasan ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai anggota dewan komisioner pada 2015.

Kemudian di kuartal I 2019, dia mendapatkan kabar telepon dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian periode 2014-2019 Darmin Nasution jika dirinya sedang mencari kandidat Deputi Gubernur Senior BI menggantikan Mirza Adityaswara.

“Ditelepon pak Darmin, dia bilang ‘Des saya lagi cari calon Deputi Gubernur Senior’ udah tuh saya ditanya-tanya soal pekerjaan selama ini ngurusin apa aja, pendapat tentang BI, ekonomi regional dan masalah ekonomi lain. Setau saya sih waktu itu ada 3 nama lain ya,” imbuh dia.

Setelah mengikuti rangkaian uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test. Destry terpilih dan dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior BI di Mahkamah Agung pada 7 Agustus 2019.

“Semua itu sebenarnya tidak pernah saya bayangkan karena saya prinsipnya cuma mengerjakan sebaik mungkin apa yang ada di depan saya. Do what you love and love what you do. Saya berusaha mencintai pekerjaan saya, tapi kalau saya merasa kayaknya saya sudah nggak pas di sini saya akan ngomong ini bukan bidang saya lagi,” jelas dia.

Source: Sylke Febrina Laucereno – detikFinance