MALANG, JNN.co.id – Puluhan orang berpakaian serba hitam berkumpul di sebuah Monumen Pahlawan TRIP di Jalan Salak, Kota Malang, Rabu (31/7) pagi.

Sementara ratusan pasang mata undangan yang duduk di tenda kehormatan menyaksikan dari jarak sekitar 10 meter.
Peserta upacara yang mengenakan celana, baju dan peci berwarna hitam ala pejuang kemerdekaan itu ternyata anggota Paguyuban Putra-Putri MASTRIP. Mereka sedang mengenang kembali peristiwa pertempuran sengit yang terjadi tanggal 31 Juli 1947.

Tidak mudah memang menghadirkan kembali kejadian yang berlangsung 72 tahun lalu itu. Namun setidaknya mereka yang sedang berkumpul di monumen sederhana berisi jasad 35 orang Pahlawan TRIP tersebut tengah berupaya untuk tidak melupakan jasa pelajar pejuang yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.

TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) saat pecah perang 10 November 1945 di Surabaya tercatat sebagai bagian Brigade XVII Detasemen I Jawa Timur.

Acara Ziarah di Monumen Pahlawan TRIP dipimpin Walikota Malang, Sutiaji.

Turut hadir pada acara tahunan ini Kapolresta Malang, AKBP Asfuri, Komandan Kodim Malang Letkol Deddy, perwakilan Tentara Genie Pelajar (TGP), Pemuda Panca Marga, Forum Komunikasi Putra -Putri ABRI (FKPPI) dan Resimen Mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Malang. Budayawan Malang, Djathi Koesoemo, hadir ke acara ini mengenakan seragam FKPPI. Bambang Soelastomo, putra Pahlawan Nasional, Bung Tomo, juga hadir pada acara yang digelar setiap tahun itu.

Dalam sambutannya, Walikota Malang, Sutiaji mengaku sempat menitikkan air mata setelah mendengar penuturan saksi mata pertempuran, Marba’i dan Widigdo. Keduanya kini sama-sama berusia 89 tahun. Saat berperang melawan tentara Belanda, usia mereka baru 15 tahun.

“Teman-teman saya itu meninggal diberondong saat bersembunyi di selokan. Tentara Belanda mengejar anggota TRIP dari Balaikota,” jelas Murba’i dengan berapi-api.

Sutiaji minta Kapolresta dan Komandan Kodim Kota Malang agar pada perayaan HUT ke-74 RI 17 Agustus nanti juga digelar upacara di Monumen Pahlawan TRIP.

“Monumen ini sangat bersejarah. Juga monumen makam tentara pelajar satu-satunya di Indonesia. Bahkan di dunia,” katanya.

Ketua Pimpinan Daerah Kolektif Kosgoro Malang, Ratna Mokohinda, mengaku senang bisa hadir di acara Ziarah Monumen Pahlawan TRIP.

“Kosgoro didirikan mantan Komandan TRIP, Mas Isman. Sudah seharusnya jika semangat TRIP tidak hanya menjadi milik anak, cucu dan cicit Pejuang TRIP. Kosgoro pun ingin mengamalkan semangat Pengabdian, Kerakyatan dan Solidaritas yang diwariskan oleh TRIP, ” ujarnya.

Sejarah MASTRIP

Di seluruh dunia, hanya ada dua negara yang kaum pelajarnya terlibat dalam perang kemerdekaan negaranya, yakni Indonesia dan Aljazair.

Pejuang Kemerdekaan Indonesia ex Brigade XVII Detasemen I/TRIP Jatim saat masih sekolah tingkat SMP dan SMA di Surabaya sempat dilatih perang oleh tentara Jepang yang tengah menjajah Indonesia.

Tujuan tentara Jepang melatih perang kaum pelajar adalah menjadikan mereka tentara cadangan untuk menghadapi tentara Belanda yang membonceng tentara Inggris untuk kembali menjajah Indonesia.
Saat mendengar kabar Jepang menyerah kalah setelah tentara Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, para pelajar yang sudah punya ilmu perang langsung menyerbu gudang senjata tentara Jepang. Senjata jenis apapun mereka ambil, termasuk meriam.

Dengan senjata rampasan itulah Pejuang TRIP turut terlibat dalam Perang 10 November 1945 di Surabaya.

Setelah Perang 10 November 1945, para Pejuang TRIP ini tersebar di berbagai daerah. Kembali ke tempat asal para pelajar. Namun mereka masih bersenjata. Masih menyatakan sebagai tentara pejuang.

Itu sebabnya sejarah mencatat, selain turut berperan saat menghadapi agresi II tentara Belanda, pejuang TRIP ikut terlibat dalam perang mempertahankan kemerdekaan hingga tahun 1949. Bahkan Pejuang TRIP turut dilibatkan saat pemerintah menghadapi pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.

Tahun 1950, para Pejuang TRIP berkumpul di Malang. Pemerintahan Presiden Soekarno memberikan kesempatan kepada pejuang kemerdekaan eks TRIP untuk berkarir di dunia militer, kepolisian, pegawai negeri atau di BUMN. Eks Komandan TRIP, Mas Isman misalnya, pilih berkarir di TNI AD. Saat wafat tanggal 12 Desember 1982 di Surabaya, Mas Isman berpangkat Mayor Jenderal.

Pada 15 November 2015 Mas Isman juga menerima gelar Pahlawan Nasional.

Untuk mengenang jasa para pelajar pejuang itu, di berbagai kota nama TRIP dijadikan nama jalan. Ada Jalan Pahlawan TRIP, ada Jalan Tentara Pelajar dan ada pula Jalan MASTRIP.

Nama MASTRIP diberikan oleh warga atau rakyat Surabaya. Karena, saat berperang melawan tentara Sekutu, anggota TRIP sering bersembunyi di rumah penduduk. Tidak sedikit pejuang TRIP yang diberi makan oleh penduduk. Kalau ada patroli tentara Belanda, pejuang TRIP memperlihatkan dirinya sebagai seorang pelajar. Dan penduduk membantu melindungi dan menyembunyikan identitas para pelajar pejuang itu.

Kedekatan dengan penduduk itulah yang memunculkan istilah MASTRIP. Karena, jika dipanggil “Pak” para Pejuang Kemerdekaan ini nyatanya masih pelajar. Tapi, meski masih pelajar, nyatanya para pelajar itu adalah tentara pejuang.

“Lalu muncul istilah, julukan atau panggilan MAS TRIP dengan spasi kepada para pelajar pejuang itu.

Namun untuk menghormati pemberian nama itu, cara penulisan MASTRIP tidak lagi menggunakan spasi. Biar rakyat dan TRIP tetap menjadi satu. Karena di saat berperang dulu TRIP banyak dibantu rakyat,” tutur Agus Wahyu Nuryadi, anggota Paguyuban Putra-Putri MASTRIP asal Banyuwangi.

Original Source: JNN oleh Yami Wahyono