“..Tanggal 21 Juli 1947 terjadi Agresi Belanda ke 1 yang mengempur daerah Besuki dan arah selatan Porong-Trawas-Lawang-Malang. Pasukan TRIP di Malang berusaha mempertahankan kota tapi karena persenjataan yang tak seimbang TRIP menderita korban yang banyak.

Pada 23 Juli 1947 gedung dan pabrik di Kota Lama sudah rata dengan tanah. Kerusakan besar terjadi di Alun-alun Contong, Gedung BRI, Kantor Keresidenan, hingga Gedung Rakyat (Onderling Belang) hancur oleh bom-bom yang sengaja dipasang. Bangunan-bangunan lain yang dihancurkan adalah Hotel Negara (Splendid Inn), Hotel Palace dan Bioskop Rex. Taktik bumi hangus dilakukan agar Belanda sekalipun bisa merebut Kota Malang tidak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan bangunan yang dibumihanguskan mencapai hampir 1000 gedung.

Tepat pada pukul 03.00 tanggal 31 Juli 1947 ketika itu masa Agresi Militer Belanda pertama, pasukan Belanda mulai menyerbu Kota Malang dengan kendaraan berat dan persenjataan lengkap. Komandan Batalyon 5000 Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bernama Soesanto, tewas terlindas oleh Marine Brigade Belanda di Jalan Salak (sekarang Jalan Pahlawan Trip) pada 31 Juli 1947, dalam upayanya menyelamatkan anak buahnya, yang mulai terkepung dari sisi barat dan timur.

Soesanto waktu itu berupaya meledakkan granat, untuk menghentikan serangan Belanda. Namun akhirnya, Soesanto bersama 34 pasukan TRIP lainnya, dinyatakan gugur dalam pertempuran di Jalan Salak Malang..”

Source Images: Netherlands National Archives