Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948, merupakan momentum bagi Masyarakat Desa Krisik membantu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Masyarakat Krisik, mengetahui adanya Agresi Militer Belanda II ini dari selebaran yang disebarkan melalui udara. Rumah Sastro Wiratmo Suratmin Lurah Krisik pada waktu itu dibakar oleh Belanda, karena pada waktu itu Belanda mengira bahwa rumah tersebut adalah markas Tentara Tentara Indonesia

Di Rumah Sastro Wiratmo Suratmin ini memang sering dijadikan tempat untuk berkumpul Barisan Pemuda untuk membahas hal-hal penting berkaitan dangan perjuangan dan kemajuan desa. Bahkan pada suatu ketika, pernah dijadikan tempat pertemuan yang dihadiri R Samadikoen (Gubernur Jawa Timur tahun 1949-1958), R. Sunaryo (Bupati Blitar tahun 1947 – 1950), Mas Isman (Komandan TRIP Jawa Timur), R Darmadi (Bupati Blitar tahun 1945 – 1947 dan tahun 1950 – 1956) yang membahas kesiapan Rakyat untuk melawan Belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan.

Tahun 1948 Dibawah pimpinan Letnan Satu Kriting Satrio Sasono TNI dan TRIP Jawa Timur, mendorong Meriam Gempur “Banteng Blorok” menuju Tirtomoyo dengan rute : Perkebunan Karet etung Ombo – Kruwuk – Sumber Sugih – Slumbung – Semen – Krisik / Tirtomoyo. Setibanya di Krisik, selanjutnya Meriam Gempur Banteng Blorok ditempatkan di ketinggian di tepi dusun Tirtomoyo dengan larasnya diarahkan ke Wlingi yang diduduki Tentara Belanda yang dipimpin Kapten Schaap agar sewaktu-waktu diperlukan dapat segera ditembakkan.

Disamping tibanya Meriam Gempur Banteng Blorok, di daerah Tirtomoyo Krisik, tidak berselang lama datang juga Kompi-3/Subiantoro dari Plosoklaten untuk melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Mas Isman selaku komandan TRIP Jawa Timur yang markas komandonya telah berada di Pijiombo Kawisari (jarak dari Krisik sekitar 3 km lewat Barurejo). Hampir seluruh kekuatan Batalyon TRIP Jawa Timur berkumpul di daerah Tirtomoyo Krisik, kemudian dengan dipimpin Mas Isman, TRIP Jawa Timur mengadakan rapat untuk mengadakan reorganisasi dan pembagian daerah kerja.

Sastro Wiratmo Suratmin yang hidup di pengungsian, memobililasi masyarakat untuk bersatu padu “Sayeg Saeko Proyo” menyediakan logistik, serta membantu memfasilitasi keberadaan pejuang dan TRIP di Desa Krisik. Masyarakat dengan suka rela membantu kelancaran tugas para pejuang terutama dalam hal logistik, mereka menyediakan apa yang mereka punya untuk diberikan kepada para pejuang, ketela, jagung dan makanan lainnya.

Ketika terjadi pertempuran Wlingi Juli 1949 masyarakat Desa Krisik bahu membahu dengan TRIP dalam menggempur Tentara Belanda yang ada di Wlingi untuk membebaskan Camat Wlingi dan Camat Talun yang ditawan Belanda. Barisan Pemuda membantu dalam hal memikul senjata-senjata yang berat, seperti mortir, kanon dan sebagainya.

Source: desakrisik.wordpress.com.