20 November 1945

Sepasukan TKR Pelajar Staf I Rayon Darmo 49 menyusun pertahanan di sekitar Jembatan Gubeng, mereka dihujani mortir oleh pasukan Inggris dari arah utara, mortir meledak di sekeliling pertahanan anak anak pelajar. Hujan mortir selama 30 menit ini tidak mencederai siapapun dari TKR Pelajar, hanya dada mereka terasa sakit karena tekanan udara yang ditimbulkan oleh ledakan yang begitu dekat (Catatan Asmadi, Pelajar Pejuang, Jakarta, Sinar Harapan, 1985).

Buku Kronik Pertempuran Surabaya yang ditulis mas Ady Setyawan membahas lebih luas dan jelas tentang serangan serangan Inggris atas Stasiun dan Jembatan Gubeng selama bulan November 1945. Jembatan Gubeng yang dibangun pada 1915 memiliki nilai strategis yang wajib dipertahankan karena posisinya yang tinggi sehingga memiliki pandangan yang luas ke segala arah. Kedasyatan Pertempuran Surabaya terekam dengan baik dibeberapa bagian Jembatan Gubeng, mulai lubang peluru, jejak rekoset, hantaman shrapnel hingga kerusakan akibat ledakan mortir, seakan menjadi Museum Hidup bagi yang mengetahui.

Kini kita tahu kisah Perjuangannya, Pertahanan Jembatan Gubeng.