Mayat kawan kawan tidak perlu disucikan dan ditukar pakaiannya, melainkan para Syuhada yang gugur di medan pertempuran ini telah suci, ia dikebumikan juga dengan pakaian perlengkapan yang basah kuyup sekujur tubuh oleh darah.

Mobil ambulan kami membawanya ke Sidoarjo untuk kami makamkan disebelah rumah sakit Sidoarjo, ia dikebumikan bersama para jenasah yang lain, dan sebuah regu pengawal untuk sekedar memberikan upacara penghormatan yang terakhir.

Seorang ayah merenungi kepergian anak sulungnya, timbunan tanah merah bernisan sederhana dengan nama sang anak, sepasang sepatu booth, puttees dan perlengkapan perang yang masih basah kena darah beliau peluk dan berusaha melepaskan ingatan akan anaknya yang gugur, ia adalah ayah dari Prapto rekan TKR-Pelajar yang gugur terkena mortir di Palmenlaan (Jl Panglima Sudirman saat ini), Prapto gugur 24 November 1945.

Saat itu korban korban mesti dilanjutkan ke Sidoarjo lewat Waru, kami angkut jenazah jenazah rekan kami untuk pemakaman di Sidoarjo, sebagian juga diteruskan ke Mojokerto. Jalan sangat sepi dan harus melewati banyak rintangan untuk sampai di Sidoarjo.

Waktu kami masuk ke kamar mayat, tampak sudah bertumpuk jenazah jenazah korban korban pertempuran yang hebat ini dari daerah lain, bau busuk sangat menusukĀ  dan terpaksa kami pakai sapu tangan penutup hidung dan mulut, tapi para penjaga sangat tersinggung, dia cabut sapu tangan kami dan kami mesti menghisap bau anyir darah busuk sampai menjadi terbiasa, sebab setelah setengah menit manusia itu menjadi biasa dengan bau yang bagaimana pun jeleknya.

Siang ini kami kembali ke Kedurus lewat jalan yang sama, dan kini kami lihat sebuah kanon terbakar sedangkan prajurit yang mengurusnya ikut terbakar hangus, mobil dokter Rustamadji juga terbakar hangus, kerbau kerbau juga hangus jadi korban.

Ngeri, beginilah doorstoot tank Inggris ke arah Waru.

A Radjab, TRIP, 1983.

Ditulis ulang oleh Heru Gunarso