Mengenang Pertempuran desa Lebaksari 1

Mastrip.org > Sejarah > Mengenang Pertempuran desa Lebaksari 1

Mengenang Pertempuran desa Lebaksari 1

Dalam karangan ini Penulis ingin memberi kesan mengenai semangat Pemuda Pelajar dalam mempertahankan Lebaksari di tengah-tengah ladang jagung, demikian pula mengenai pencipta lagu Soewandi dengan pesannya dalam lagu : Perjuangan kuteruskan sampai zaman Kiranya semangat Pemuda tentara pelajar pada waktu itu yang tidak mengenal menyerah, masih relevan bagi Pemuda Pelajar sekarang. Bahwa pelaku-pelaku peristiwa tersebut telah almarhum ialah Pdt. Pansa Tampubolon, Drs. Taslim Umar, Drs. Basmar Rahman, Soepardi dan Soedjadi. (Red)

Desa Lebaksari terletak di daerah rangkaian pegunungan Kendeng yang gersang, memanjang sebelah Utara tengah P. Jawa dari arah Barat ke Timur sampai Jawa Timur dan berakhir berbentuk lidah di Gresik dan masih merupakan rangkaian barikade pertahanan kota Surabaya, jadi di sebelah Baratnya kota Surabaya ± 20 km jaraknya dari kota. Pada waktu itu asramanya mas TRIP ada di Parengan Jetis, sebelah Barat dayanya Wringin anom. Dari sanalah pasukan TRIP diberangkatkan dan di pulangkan menuju ke tiap-tiap garis pertahanan kota secara bergiliran dalam rangka mempertahankan dan membendung arus serangan tentara Inggris, Gurkha dan Nica.

Pertempuran di desa Lebaksari pada tanggal 14 Februari 1946 merupakan medan pertempuran dahsyat yang pernah dipertahankan oleh kesatuan Mas TRIP, setelah mundurnya pertahanan di dalam kota Surabaya. Dimana pada waktu pertahanan di dalam kota Surabaya, mas TRIP/TKRP pernah menyerang kedudukan musuh seperti di gedung HBS, Stasiun ,Sernut, Keputran,

Wonokromo dan Gunung Sari. Boleh dikatakan setiap jengkal tanah dipertahankan dari serangan tentara Inggris, Gurkha dan Nica secara mati-matian sejak mundurnya dari kota Surabaya sampai perang Gerilya.
Demikian juga pertempuran di Desa Lebaksari, pada waktu itu pasukan TRIP satu seksi di pimpin oleh mas Pansa Tampobolon. Dengan kekuatan senapan-senapan karabyn panjang Belanda dan Jepang. Senjata berat satu-satunya adalah mitraliyur watermantel, penulis sebagai salah satu pembantu yang ikut melayani mitraleyur (masih ingusan) tersebut.

Pasukan mas TRIP ini merupakan baru saja ngaplosi pasukan mas TRIP yang lainnya yang sudah beberapa waktu yang lalu mempertahankan desa Lebaksari. Jadi pasukan tentara pelajarnya mas Pansa ini baru datang pada malam harinya dari Parengan Jetis (Asrama TRIP setelah mundur dari Surabaya).
Pada malam itu juga kita dapat perintah harus menempati stelling di desa Lebaksari. Pertahanan desa Lebaksari ini, letaknya tidak jauh. dari pertahanan bukit Kedamean 1 km jaraknya.

Pada malam itu juga kita berangkat dari Karangasem ke desa Lebaksari dengan melewati jalan-jalan sempit penuh lumpur berjalan secara gremet di dalam gelap gulita dengan tidak ada yang membawa lampu senterpun malam-malam itu kita sampai di tempat stelling. Keadaan medan di pegunungan penuh dengan rerumpunan bambu yang memanjang agak ketinggian dan merupakan suatu pertahanan yang baik. Selama dipertahanan kami selalu siap berjaga-jaga dalam stelling, jadi hidup kami di udara terbuka siang dan malam sampai ada aplosan (bergantian) ± 2 minggu.

Di depan pertahanan adalah suatu desa dengan ada satu jalan besar, jalan inilah sering dilewati tentara Inggris, Gurkha dan Nica berpatroli. Persis di depan kita agak ke bawah ada ladang jagung yang pohon-pohonnya sudah tinggi-tinggi. Untuk mengisi perut yang kosong kami bergiliran turun dari perbukitan masuk ke Desa mencari makan, sesudah itu kami kembali lagi ke tempat stelling. Masih aku ingat pada waktu itu jam 10 pagi, saya bersama-sama teman yang lainnya masih didesa untuk makan pagi, tetapi belum selesai makan ± 2/3 suap tiba-tiba kami dikejutkan oleh orang-orang desa yang berlari-lari kian kemari sambil meneriakkan bahwa musuh memasuki desa.

Inggris, Gurkha yang diboncengi tentara Nica Belanda yang sangat terkenal kekejamannya muncul. Kalau mereka berpatroli kesuatu desa mereka bukannya hanya merampok tetapi juga memperkosa dan membunuh pemuda-pemuda desa tersebut.

Kendatipun. kami pada saat itu makan belum kenyang, segera kami meninggalkan desa tersebut menuju kembali tempat stelling kami dibawah rerumpunan bambu dan jagung. Dari jauh kami sudah melihat penduduk yang pada lari membawa bungkusan yang sempat dibawanya dan menuntun ternaknya dan terus dihalau keluar desanya, mereka segera mengungsi keluar desa untuk mencari selamat.

Tidak jauh dibelakang mereka terlihat barisan teratur beratus- ratus manusia yang beruniform hijau sedang dalam formasi tempur melewati galeng-galengan sawah ladang jagung. Dengan seksama kami mengawasi dengan berdebar-debar menunggu mereka mendekat sampai jarak tembak.
Suasana sunyi senyap kami tiarap merapat tanah dibelakang tanah gundukan di bawah rumpun bambu dengan senapan yang sudah terisi peluru siap menembak.

Tiba-tiba dari belakang stelling kami datanglah serombongan pasukan Polisi Istimewa (anak buahnya Pak Jasin) yang mau stelling maju lagi dari stelling kami. Mereka penuh keberanian menyongsong datangnya musuh dan mereka terdiri dari satu regu dan salah satu diantara mereka membawa tekidanto (pelempar granat) mereka langsung membuat stelling di muka kami dan agak ke bawah (lebih rendah). Rupanya musuh mengetahui gerakan-gerakan kita ini, dan musuh tiba-tiba merebahkan badanya langsung bertiarap di bawah rerumpunan bambu dan pepohonan jagung sehingga mereka menghilang dari pandangan mata kita. Keadaan kembali sunyi senyap dan musuh bersembunyi diantara pepohonan jagung dan mereka telah mengetahui lokasi stelling kita di dalam rumpun bambu.

Beberapa orang anggota Polisi Istimewa tidak sabar lagi, keadaan tunggu menunggu ini sangat mengejutkan kami, sekonyong-konyong Polisi Istimewa menembakkan tekidantonya dan pelurunya jatuh ditengah-tengah ladang jagung dan meledaklah ditengah-tengah musuh yang tersembunyi. Kemudian menyusul peluru kedua, ketiga dan seterusnya. Segera musuh berpuluh-puluh jumlahnya bangkit dengan mengundurkan diri sambil membalas tembakan bertubi-tubi kearah kami. Tembakan-tembakan mereka segera kami balas dengan tembakan gencar baik dengan senapan maupun mitraliur, semua rekan-rekan mas TRIP menembak. Musuh melompat berlari-lari mundur bagaikan burung-burung berterbangan yang diusik oleh petani dari ladang padinya.

Keadaan ini tidak berlangsung lama sebab tak lama kemudian sepanjang stelling kami dihujani peluru-peluru senapan mesin tidak henti-hentinya yang diselingi jatuhnya bom dari kapal terbang yang mendengung di udara dan jatuhnya kiriman mereka peluru mortir. Kami terlibat dalam perang yang sangat seru, sebab yang dihadapi bukan saja infanteri yang di depan stelling juga peluru-peluru artelerinya yang ditembakkan dari kejauhan desa Bambe, maupun bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat udaranya.

Bersambung    

Comments 7

  1. Tiada yang dapat kuungkapkan selain lautan terimakasih dan untaian doa bagimu yang telah menorehkan darah buat negri ini. Sebagaimana lagu ciptaan alm. Soewandi, perjuangan kuteruskan sampai ke akhir jaman….dalam bentuk yang lain demi tegaknya NKRI….

  2. arfan budi sucahyo

    Saat ini saya sedang membaca buku “Pertempuran Pejoang TRIP Jatim di Jombang” yang saya temukan di Perpustakaan Mastrip Jombang. Mungkinkah kisah buku ini di publish pada website ini.

    • Monggo mas, kalo njenengan punya softcopynya akan kami upload berseri..
      terima kasih banyak atas kunjungan dan perhatiannya.

  3. Saya perlu buku “Peran Pelajar dalam Perang Kemerdekaan ” karangan A. Radjab (ayah saya sendiri) Kebetulan kami tidak memilikinya. Mungkin ada di antara Bapak/Ibu/ Sdr. yang punya beri kami informasi.

Leave a Reply to ivan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>