TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kisah perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Jl Salak (sekarang Jl Pahlawan TRIP), Kota Malang pada 31 Juli 1947 silam, pagi ini (31/7/2017) diperingati para anak cucu TRIP. Upacara peringatan dipusatkan di Makam TRIP Jl Pahlawan TRIP, Kota Malang, Jatim, mulai pukul 07.30 WIB.

Keluarga TRIP, para mantan pejuang RI, dan anak cucu 35 pahlawan TRIP yang gugur hadir. Tampak pula perwakilan dari TNI dan Polri, Kosgoro, ARMI, dan sejumlah ormas kepemudaan hadir. Upacara dipimpin oleh Gandu Arif, sesepuh TRIP Malang.

Selain upacara penghormatan, peserta juga melakukan tabur bunga ke makam TRIP. ’’Kita yang ada sekarang bisa menikmati kemerdekaan berkat jasa pahlawan. Termasuk pada pahlawan TRIP yang gugur ini,’’ ucap Gandu Arif.

Dikisahkan, pada Juli 1947, di Kota Malang terjadi pertempuran hebat antara TRIP dan pasukan Belanda. Pada 23 Juli 1947 politik bumi hangus dilakukan para pejuang. Gedung dan pabrik di Kotalama sudah rata dengan tanah.

2

Kerusakan besar terjadi di Alun-Alun Contong, Gedung BRI, Kantor Keresidenan, hingga Gedung Rakyat (Onderling Belang) hancur oleh bom-bom yang sengaja dipasang. Bangunan-bangunan lain yang dihancurkan adalah Hotel Negara (Splendid Inn), Hotel Palace dan Bioskop Rex.

Taktik bumi hangus dilakukan agar Belanda sekalipun bisa merebut Kota Malang tidak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan bangunan yang dibumihanguskan mencapai hampir 1000 gedung.

Tepat pada pukul 03.00 tanggal 31 Juli 1947, pasukan Belanda mulai menyerbu Kota Malang dengan kendaraan berat dan persenjataan lengkap. Pasukan Belanda cukup mudah memasuki Kota Malang karena kota ini telah dikosongkan oleh Komando Divisi Untung Suropati dan Kota Malang dinyatakan sebagai kota terbuka.

Akan tetapi, Malang yang telah dibakar dan dikosongkan tak berarti pasukan Belanda bisa mendudukinya tanpa perlawanan dari rakyat. Perlawanan sengit terjadi sejak masuk sisi utara Kabupaten Malang, sepanjang jalan raya Lawang-Malang tank-tank musuh dihadang dengan berbagai rintangan dan pasukan Belanda dihujani senapan mesin oleh TNI dan laskar-laskar. Pertempuran penghadangan tentara Belanda juga terjadi di Singosari di mana empat prajurit Belanda menjadi korban jebakan bom.

1

Di dalam kota, pasukan TRIP telah bersiaga menghadang pasukan Belanda. Sampai di Lapangan Pacuan Kuda Betek, Jl Salak (sekarang Jl. Pahlawan TRIP), terjadi tembak menembak antara pasukan TRIP dan Belanda. Dalam pertempuran sekitar 5 jam ini TRIP melawan dengan gigih tentara Belanda yang sudah terlatih.

Pada saat itu, tentara Belanda menggunakan persenjataan lengkap dan beberapa tank. Sementara para pejuang TRIP, hanya memakai senjata yang seadanya. Bahkan dengan sadis tentara Belanda menabrakkan dan melindas kerumunan tentara TRIP sampai mereka tewas dengan sebuah tank.

Lebih 34 pelajar gugur dan beberapa lainnya luka-luka tertawan termasuk komandan kompi. Komandan Batalyon 5000, Soesanto, tertembak di tempat terpisah di Jalan Ijen dekat Gereja Katolik ketika sedang mengendarai motor hingga dia menabrak tembok sebuah bangunan. Bukan hanya tentara pelajar yang menjadi korban. Pelajar yang bukan tentara pun juga jadi korban.

Tentara Belanda terus menyerbu rumah sakit Celaket mencari tentara. Mereka tidak bisa membedakanantara anggota Palang Merah dan tentara pejuang. Dua orang anggota Palang Merah Pemuda tertangkap dan dibunuh. Sebuah laporan menyebutkan salah seorang di antaranya matanya dicungkil.

Karena agresi Belanda ini maka Pusat Komando TRIP berpindah ke Gabru, Kediri dan Madiun. Markas Komando Pusat TRIP berkedudukan di Gabru, Markas Komando I (gabungan dari Batalyon 1000 dan Batalyon 2000) berkedudukan di Madiun sedangkan Markas Komando II berasal dari Batalyon 3000 di Kediri.

Ada sebuah lagu yang berhasil digubah oleh para pelajar, khususnya ketika Malang sudah direbut tentara Belanda pada 31 Juli 1947. Liriknya sebagai berikut: “Mari kawan-kawan menuju Kota Malang/yang telah lama terpaksa kita tinggalkan/Mari rebut kembali dari tangan musuh/mari kita serbu kita halau dengan musnah/Hai pemuda-pemuda harapan bangsa/ Ingat kewajiban Kota Malang menanti sudah, pahlawan jang perwira/tabahkan hatimu/tiada gentar dwiwarna harus berkibar pula di Malang yang megah.”

Para korban yang gugur tersebut dimakamkan oleh sekelompok orang yang ditawan Belanda dalam satu lubang yang tidak jauh dari markas TRIP di Jl Salak (sekarang Jl. Pahlawan TRIP) Kota Malang. Untuk mengenang dan menghargai jasa dan pengorbanan para pejuang yang gugur tersebut, dibangun sebuah monumen Pahlawan TRIP. Peresmian taman makam pahlawan TRIP ini dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959. (*)

Source : Times

3