Pada akhir Januari 1946, satu seksi pasukan tentara pelajar di bawah pimpinan Murdoyo dan Poly Sulistio, dari Yogyakarta tiba di Jetis, asrama TRIP setelah mundur dari Surabaya. Mereka bermaksud bergabung dengan kesatuan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).

Setelah melalui latihan kemiliteran, pada suatu malam yang gelap, mereka dibangunkan agar bersiap-siap berangkat ke front untuk menyergap kedudukan Belanda. Semua anggota pasukan berangkat dengan hati berdebar-debar. Mereka bergerak dalam formasi satu-satu ke belakang dengan jarak 1-2 meter dengan teman di depannya. Perintah disampaikan secara beranting.

Mereka berjam-jam bergerak terus, diselingi dengan menikung ke kiri dan kanan, melalui pematang-pematang sawah dan tegalan serta menerobos berbagai perkampungan penduduk. Sekitar jam 03.00 pasukan diperintahkan berhenti dan membentuk posisi pertahanan menyamping serta mencari perlindungan di balik pohon atau gundukan tanah.

Senjata yang sudah diisi dan dikunci sejak berangkat meninggalkan Jetis, kini mulai disiapkan dan diarahkan ke sasaran. Setiap anggota pasukan jantungnya berdebar-debar, mulutnya komat-kamit membaca doa, dan mengingat pesan orangtua apabila ada teman sedang sekarat agar dibisikkan kalimat syahadat.

Tiba-tiba datang perintah agar mengunci kembali senjata, karena sarang musuh harus diserang dari dekat. Semua anggota pasukan harus merayap mendekati sarang musuh. Setelah beberapa saat merayap di atas rumput dan batu-batu yang basah karena embun pagi, kembali pasukan diperintahkan berhenti dan bersiap untuk menyerang bila kedudukannya sampai diketahui oleh musuh.

Komandan kemudian mengirimkan seseorang utuk menyelidiki kedudukan musuh secara tepat.

Secara kebetulan saat itu front Kedamean sedang sepi, tak terdengar satu pun suara tambakan. Setelah lama menunggu dalam kedinginan embun pagi, tiba-tiba pasukan diperintahkan bergerak sambil merundukkan tubuhnya karena sarang musuh yang akan disergap sudah dekat.

Dari berbagai penjuru mulai terdengar suara kokok ayam bersaut-sautan. Hari pun mulai terang-terang tanah. Ketika itulah setiap anggota pasukan mengetahui di mana mereka berada.

“Tanpa setahunya mereka tidak berkisar terlalu jauh dari Jetis, mereka hanya berputar-putar di daerah itu sepanjang malam. Terdengar anak-anak Yogya itu mengumpat gaya Jawa Timur: Jancuk, jancuk, jancuk,” kata Asmadi, mantan anggota TRIP, dalam Pelajar Pejuang.

Menurut Asmadi, selama semalam mereka dicekam ketegangan, malah ada yang berpikir “apakah masih bisa ketemu nasi besok pagi”, tak tahunya mereka hanya diuji ketabahannya jika menghadapi pertempuran yang sesungguhnya.

Penulis: Hendri F. Isnaeni

Courtesy: Historia