Minggu,
23 November 1947.

Tepat 73 tahun lalu……

46 Dari 100 pejuang Bondowoso……
gugur saat dijejalkan Belanda ke dalam gerbong pengap yang tertutup…..
Monumen Gerbong Maut……
Bangunan ini menjadi saksi bisu kekejaman Belanda pada masa perjuangan…….

Jika anda melintasi kota Bondowoso….
Tak jauh dari alun2 Bondowoso…. anda pasti akan melihat sebuah monumen yang berada di tengah jalan…..

Pasti perasaan Aneh….heran…ingin tahu….
Hadir di benak anda…
hawa menyeramkan hadir saat melihat sebuah kereta tua yang usang dengan patung2 manusia di atasnya…..

Kesan pertama yang tertangkap adalah ngeri….dan semakin ngeri… apalagi setelah membaca sejarah peristiwa yang ada di monumen tersebut…..
Leher terasa tercekat saat membaca tragedi gerbong maut….

Berawal dari tindakan Belanda yang melakukan penangkapan besar2 terhadap TRI….
lasakar…
gerakan bawah tanah…..
dan orang2 tanpa menghiraukan apakah yang bersangkutan berperan atau tidak dalam kegiatan perjuangan…..
Sehingga dalam waktu singkat…. penjara Bondowoso tidak mampu lagi menampung tahanan yang pada waktu itu mencapai kurang lebih 637 orang…….

Kemudian, Belanda bermaksud memindahkan tahanan yang termasuk “pelanggaran berat”……
dari penjara Bondowoso ke penjara Kali Sosok…. Surabaya….
Untuk mengangkut para tahanan tersebut menggunakan sarana kereta api…….

Setiap tahap pengangkutan memuat sebanyak 100 orang…… Pemindahan pertama dan kedua berjalan dengan baik……
karena gerbong yang mengangkut tahanan diberi ventilasi seluas 10-15 cm….
Namun….
saat pemindahan tahap ketiga….. gerbong tertutup sangat rapat dan selama perjalanan tawanan tidak boleh keluar gerbong……

Akibatnya…..
semua tahanan dalam gerbong menderita kelaparan dan kehausan…..
Bahkan ada 46 orang yang gugur dalam peristiwa ini….
Pemindahan tahap ketiga inilah yang dikenal dengan sebutan “Gerbong Maut”……

100 tawanan itu di angkut ke dalam tiga gerbong….

Masing2 bernomor GR.4416….
GR.5769 dan GR 10152….
Rencananya para tawanan tersebut akan diberangkatkan ke Surabaya pada hari itu juga….

Namun begitu peluit pemberangkatan akan ditiup……
Tiba2 muncul lah massa yang sebagian besar terdiri dari keluarga para tawanan memenuhi area stasiun…..
Akhirnya secara diam2 pihak militer Belanda memutuskan….. pemberangkatan akan dilakukan pada besok pagi……

Minggu….. 23 November 1947. Pagi baru saja datang ketika para tawanan kembali diangkut ke stasiun Bondowoso……
Begitu tiba di stasiun mereka langsung dimasukan ke dalam tiga gerbong kereta barang……
Tepat jam 7.00. usai ditutup rapat….
kereta api pun berangkat…..

Bersumber dari buku “Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid IV…”.
Salah satu saksi yang bernama SLAMET KARSONO menceritakan…..

Dia masih ingat….
suasana menjadi gelap dan pengap…..
terlebih di gerbong tersebut tak ada lubang hawa sama sekali….. Selama kereta api berjalan suasana terasa sangat menyiksa….
Hawa panas mulai mendera…

“Semakin siang….
udara semakin panas dan menjadikan sebagian dari kami panik….
Kami menggedor2 badan kereta supaya gerbong dibuka…” ujar Slamet Karsono…..

Bukan dituruti…..
para serdadu pengawal dari kesatuan Marinir Kerajaan “KM” malah tak menghiraukannya….

Menjelang tengah hari….
kereta api akan tiba di stasiun Jember…..

Di tengah perjalanan antara bondowoso dengan Jember….
kereta ini di hadang para pejuang….
Mereka bertempur bertaruh nyawa…..
berusaha melepaskan para tawanan…..si sisi kiri dan kanan rel yang di lalui gerbong pengangkut tawanan tadi….

Namun….
Usaha para pejuang ini tidak berhasil…..

Ketika tiba di Stasiun Kalisat….. gerbong tahanan harus menunggu kereta dari Banyuwangi…..
Selama dua jam para tahanan berada dalam terik matahari….. Akhirnya pada pukul 10.30 WIB kereta baru berangkat dari Jember ke Probolinggo…..

Setelah meninggalkan Jember di siang hari….
suasana gerbong bagaikan di dalam neraka….karena atap dan dinding gerbong terbuat dari plat baja…….
Banyak terjadi peristiwa diluar batas kemanusiaan….

Seorang gerilyawan tua asal Maesan bernama Asbun tak berdaya di tengah-tengah himpitan orang-orang kalap itu……

“ Ya Allah…Ya Allah… Ya Allah…Allahu Akbar……
berilah aku kekuatan…..
Ya Allahhhhh, panasss…Airrrr…” rintihnya.

Karsono tak bisa berbuat apa2…. Jangankan menolong Asbun….
ia sendiri tengah tersiksa oleh situasi gerbong yang seolah neraka di dunia…..

Tak kuat menahan rasa haus….
ia meminta rekannya bernama Singgih untuk buang air kecil….. Dengan air seni dari tubuh Singgih itulah….
Karsono terpaksa memenuhi rasa dahaganya….
“ Rasanya pahit…” kenang lelaki kelahiran Purbalingga pada 1915 itu……

Mendekati Stasiun Jatiroto….
hujan yang turun rintik2…..
Ini di manfaatkan para tahanan yang masih hidup untuk meneguk tetes demi tetes air dengan menjilat tetesan air yang berasal dari lubang2 kecil…..

Tidak demikian halnya dengan gerbong ketiga GR10152 karena masih baru…..
para tahanan tidak mendapatkan tetesan air sedikitpun….
Di tengah suasana sangat panas…. gelap dan pengap……
Karsono masih sempat menyaksikan sosok2 tubuh bertelanjang bulat saling berebut lubang udara….
sebesar ujung paku di dinding gerbong…..

Sementara itu….
para tawanan yang masih mampu bergerak merayap bak binatang melata…..
coba menjilati titik2 air hujan yang melekat di dinding gerbong…..

Di gerbong lain……
Soetedjo merasakan kondisi yang sama seperti dialami oleh Karsono….
energi yang banyak keluar karena kerja keras…. membuat lubang udara dengan paku berkarat yang di remikan di sudut gerbong…..
menjadikan mereka kehausan….

Pernah dicoba menggedor2 bagian gerbong yang ditempati para pengawal untuk memohon air minum….
namun jawaban menyakitkan justru mereka dapat…..

“Godverdomme…!!
Hei Anjing…..
di sini tidak ada air…. yang ada peluru….
Di Surabaya nanti kamu bisa minum sepuas2 nya…!!”

Seperti di kutip dari salah satu halaman buku itu…..

Menurut Djoko Sri Moeljono “79”…. Soetedjo berserta kawan2 nya bisa bertahan berkat satu buah mangga yang kebetulan dibawa salah seorang tawanan….
“Biji plok-nya kemudian dijilati sepanjang perjalanan sekadar untuk membasahi tenggorokan seadanya…..”

Suasana neraka mulai berakhir menjelang pukul 20.00……
saat kereta api tiba di tujuan…. stasiun Wonokromo….
Surabaya……

Setelah peluit tanda berhenti berbunyi….
para serdadu pengawal berloncatan…
lalu membuka pintu gerbong2 dan menghardik para tawanan untuk cepat keluar satu persatu…….

“Ayo, cepat! Keluar!…”
teriak seorang serdadu seraya mengokang senjatanya…..
Namun tak ada suara sama sekali….
Suasana hening……

Awalnya para pengawal marah dan terus berteriak2….
namun setelah semua pintu gerbong dibuka lebar……
terkejutlah mereka……
Di hadapan mata mereka….nampak tumpukan dan serakan manusia…..

Ada yang dalam posisi
terlentang dan tertelungkup…..
Di sisi lain….
sejumlah tawanan mati dalam kondisi terbelalak matanya….. sementara tawanan lain tewas dengan seluruh tubuh penuh goresan kuku……

Usai semua diturunkan…..
terketahui bahwa 46 dari 100 tawanan itu telah tewas…..

Dalam proses evakuasi…..
para gerilyawan yang gugur itu tidak mudah diangkut dan dipindahkan…..
mengingat kulit mereka sudah terlanjur menyatu dengan badan gerbong…..
dan akan terkelupas bila dipaksakan…..

Sejatinya….
seorang anggota militer Belanda bernama Giovanni Hakkenberg…. sudah memberitahukan kondisi tak manusiawi gerbong2 itu…..
kepada komandan lokal dari Dinas Keamanan Brigade Marinir “VDMB”….
Bahkan pemberitahuan itu diulangi Giovanni ketika melihat indikasi laporannya tidak diindahkan…..
“ Jangan lakukan itu…”ungkapnya….

seperti dikutip oleh Gert Oostindie… dalam bukunya Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950….

Para tahanan yang agak sehat dipaksa menganggkut temannya yang sudah meninngal…..
Semua jenazah diletakkan sejajar…..
Setelah dievakuasi…..
jenazah harus diangkut dengan sangat hati2….
sebab kalau tidak daging jenazah akan mengelupas akibat kepanasan.

Itulah sejarah yang harus selalu kita kenang dan hargai……
Bagaimana para pejuang mengorbankan nyawanya untuk mememperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia…….