Jalan Ijen sangat terkenal bagi mereka yang berkunjung ke Kota Malang. Jalan kembar yang berderet rumah mewah ini menjadi salah satu jantung Kota Malang. Jalan yang pada hari minggu pagi menjadi jalan bebas mobil dan motor ini, merupakan salah satu akses dari wilayah timur dan barat Malang.

Namun apakah ada yang tahu tentang monumen yang berada di depan gereja Katolik Ijen. Letaknya berada di ujung utara jalan kembar Ijen, tepatnya disisi barat. Monumen yang diberi nama monumen patung TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) berdiri tegak ditengah-tengah pertigaan antara Jalan Ijen dengan Jalan Pahlawan TRIP ini, menggambarkan perjuangan para pelajar yang masih berumur 14-18 tahun ketika turut mempertahankan kemerdekaan. Sebelah kiri monumen patung TRIP terdapat monumen makam pahlawan para pasukan TRIP yang gugur dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan melawan pasukan Belanda pada agresi militer I.

Peristiwa agresi militer Belanda I terjadi pada tahun 1947. Ketika itu tentara Belanda yang telah berhasil menaklukkan Surabaya merangsek masuk kota malang melalui Kecamatan Lawang. Rakyat yang mendengar Belanda akan menyerang Malang tidak rela kotanya diduduki, maka rakyat “membumihanguskan” dengan membakar kota. Seluruh fasilitas dihancurkan dan dibakar, tak terkecuali Balaikota Malang. Pemerintahan pun sempat diboyong ke Kecamatan Bantur Kabupaten Malang, agar supaya selamat dan tetap melakukan tugasnya sebagai bagian dari Republik. Penduduk pun juga ikut mengungsi ke arah selatan Kota Malang dan Kabupaten Blitar.

Malang yang telah dibakar dan dikosongkan tak berarti pasukan Belanda bisa mendudukinya tanpa perlawanan dari rakyat. Perlawanan sengit terjadi sejak masuk sisi uatar Kabupaten Malang, tank-tank musuh dihadang dengan berbagai rintangan dan kemudian pasukan Belanda dihujani peluru oleh TNI dan laskar-laskar. Di dalam kota, pasukan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) telah bersiaga menghadang pasukan Belanda. Pasukan TRIP yang telah berkumpul di Malang sejak Juli 1946 untuk mengikuti ujian kenaikan kelas bersiap mempertahankan Malang.

Sejak Juli 1946, para pelajar dan pasukan TRIP se- jawa Timur berkumpul di Malang untuk mengikuti ujian kenaikan kelas. Mereka kembali ke sekolah setelah mendapat tentangan berbagai pihak mengingat tugas pelajar adalah menuntut ilmu. Dilematis yang dialami oleh IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) antara tugas dan turut aktif mempertahankan kemerdekaan, memunculkan ide untuk menyelenggarakan kongres pelajar di Malang setelah ujian kenaikan kelas pada bulan Juli. Melalui perdebatan yang alot, akhirnya diputuskan pembentukan TRIP Jawa Timur yang tergabung dalam Brigade 17 yang dipimpin oleh Isman dan wakil komandan Moeljosoedjono.

Pasukan TRIP Jawa Timur mempunyai 5 Bataliyon yaitu Bataliyon 1000 berkeudukan di Mojokerto terdiri dari pelajar di Karesidenan Surabaya meliputi Mojokerto dan Jombang yang dipimpin oleh Gatot Koesoemo. Bataliyon 2000 berkedudukan di Madiun terdiri dari pelajar di Karesidenan Madiun dan Bojonegoro yang dipimpin oleh Surachman. Bataliyon 3000 di Kediri terdiri terdiri dari pelajar di Kediri, Tulungagung dan Blitar yang dipimpin oleh Sudarno. Bataliyon 4000 di Karesidenan Jember yang melliputi pelajar di Besuki, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi yang dipimpin oleh Mukarto. Bataliyon 5000 berkedudukan di Malang meliputi pelajar di Karesidenan Malang yang meliputi pelajar di Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang yang dipimpin oleh Susanto.

Setelah terbentuknya Brigade 17 pasukan TRIP Jawa Timur, keadaan Republik semakin genting. Belanda melangsungkan agresi militer I pada tahun 1947, dengan menyerang Malang yang memiliki nilai strategis sebagai pangkalan militer. Pertempuranpun terjadi ketika pasukan Belanda berhasil merangsek masuk ke dalam kota. Seluruh pasukan dari TNI dan laskar-laskar melakukan perlawanan yang sangat sengit, tak terkecuali pasukan TRIP.

Pasukan TRIP Bataliyon 5000 yang telah dibrifing oleh TNI untuk mempertahankan garis pertahanan di Malang, terlibat pertempuran di jalan Salak (sekarang jalan pasukan TRIP). Perlawanan tidak seimbang terjadi antara pasukan profesional Belanda dengan pasukan pelajar yang tergabung dalam TRIP. Walaupun begitu pasukan TRIP memberi perlawanan yang sangat sengit. Hingga akhirnya 34 tentara TRIP gugur dalam pertempuran tersebut. Komandan pasukan Bataliyon 5000, Susanto juga gugur terkena peluru di depan gereja Ijen ketika mengendarai motor.

Setelah pertempuran yang berlangsung selama 5 jam dengan kekuatan yang tak seimbang ini, pasukan yang gugur dimakamkan dalam satu lubang yang kini menjadi monumen taman makam pahlawanan. Monumen taman makam ini dilengkapi prasasti dan relife mengenai perjuangan pasukan TRIP beserta nama-nama korban. Monumen dan Taman makam ini diresmikan oleh presiden Soekarno.

Source: Sejarah Makam Pahlawan TRIP