Riwayat Pembuatan Prasasti TMP MAS TRIP Jln Salak Malang 2

5. Dalarn ceritanya, papan tulis diraba dan diamati oleh Bapak Presiden. Apa arti dan maksudnya ? Siapa yang tahu. Sedalam dalam laut dapat diduga tetapi dalam hati manusia siapa yang tahu. Namun demikian utusan kita cukup tanggap malahan selalu tanggap ing sasmito.

Apakah tanggapannya itu benar atau salah, pokoknya cukup tanggap. Dari pengaruh rasa tanggap ini serasa tidak sadar, bahwa utusan kita mengeluarkan keringat dingin, anggota badan gemetar, detak jantung berdegup keras, bibir komat kamit sambil berdoa mudah-mudahan Bapak Presiden berkenan menerima papan tulis yang disiapkan dengan sangat tergesagesa.

Bung Karno mesem (senyum) kemudian memanggil ajudannya. (mas Darto).
“Darto, kapur tulis”
Mendengar Bung Karno memanggil ajudannya dan minta kapur tulis, berarti papan tulis diterima. Utusan kita, katanya seperti mendapat guyuran air gunung sejuta galon. Dingin, segar, anyles dan menyejukkan hati, sehingga mampu mengembalikan kepercayaan diri utusan kita. Akhirnya kembali ngamper dan tidak melenggong lagi.

6. Kapur tulis diterima Bung Karno, kemudian ujungnya dipatahkan dan dicoret-coretkan dipapan sebelurn digunakan. Utusan kita ini memang G.R. sekali. Dengan rasa bangga, haru dan kagum utusan kita ngunandiko (bicara dalam hati).

Bung Karno benar-benar pemimpin besar dan berjiwa pendidik guru bahkan maha guru. Apo tumon pegang kapur tulis saja kok ujungnya dipatahkan dan dicoba dulu.

Kebiasaan ini hanya dilakukan oleh keluarga besar guru. Memang kedua utusan kita itu origin dan usil. Setiap gerak gerik Bung Karno tidak ada yang lepas dari pengamatan mereka.

7. Bung Karno sudah memegang kaput tulis. Sebelum mulai dengan goresan pertamanya, Bung Karno hening sejenak dan mengucapkan
“Bismillahirohmanirohim”
Utusan kita jumbul, dan kembali ngrumpi dalam hati. Begitulah orang besar, sehingga setiap bicaranya ataupun tulisannya akan menjadi petunjuk, pengarahan, pedoman, keteladanan dan banyak me-ngandung kata-kata mutiara.

Bung Karno mulai menggoreskan kapurnya kepapan tulis, mulai dari kata pertama sampai akhir tanpa berhenti sama sekali. Lancar, ringan dan mengalir tanpa henti sampai selesai dengan tuntas. Utusan kita sudah kehabisan gumun (heran), tinggal godeg yang ada (geleng kepala).

Enak-enak geleng kepala mendadak ada petir menyambar disiang hari bolong, karena mendadak Bung Karno bertanyak.
“Kapan kamu pulang dan naik apa?”
Sdr. Abdullah Kusrin dan temannya dengan lidahnya yang lincah segera menjawab : Hari ini dan naik kereta api. Apa kata Bung Karno.
“Tidak bisa. Papan tulis akan rusak”.
Kemudian memanggil ajudannya.
“Darto, hubungi Soerya Darma, supaya menyiapkan pesawat DAKOTA untuk mengantar Prasasti sampai ke Malang”

Dengan sendirinya dikawal oleh dua utusan kita sdr Abdullah Kusrin dan sdr Ir Subadi. Katanya : “Lumayan dapat merasakan naik pesawatnya Sorodadu” (TNI-AU).

Bersambung…

Riwayat Pembuatan Prasasti TMP MAS TRIP Jln Salak Malang 3