Penjeberangan
1963 :: War :: 108 menit

ProduserSubagio Abdulmanap, Nya Abbas Akup
Sutradar Gatut Kusumo
Penulis Gatut Kusumo, Nya Abbas Akup
PemeranIsmed M Noor, Wahab Abdi, Rima Melati, Usbanda, Sri Redjeki, Sari Narulita,
Satyagraha Hoerip, Keiko Takeuchi, Pantjoro, Fritz G Schadt, Boedi SR,
Gusti Putu Arya, Tina Taurina

Sinopsis
Di awal 1949 sepasukan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur mendapatkan tugas bersama Tentara Republik Indonesia (TRI, kemudian TNI) untuk membawa meriam “Banteng Blorok” dari Trenggalek. Penyeberangan melintasi kali Brantas itu mengalami berbagai hambatan. Intaian mata-mata musuh, serangan pasukan Belanda dan lain-lain. Setelah menyebabkan jatuhnya beberapa korban, akhirnya “Banteng Blorok” itu berhasil diseberangkan. Untuk selanjutnya dibawa ke tempat, di mana meriam tersebut dimanfaatkan untuk menggempur musuh di kota Malang. Kisah disajikan lewat tokoh Sampurno (Wahab Abdi) dan Puji (Ismed M. Noor), anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), yang ditugaskan memberi tahu dan menjemput meriam tersebut. Lewat dua tokoh ini situasi sosial zaman itu tampil, termasuk pikiran-pikiran tentang kepahlawanan, revolusi dll. Di akhir film dilukiskan bagaimana dua prajurit yang sok gagah itu, terkencing-kencing saat menghadapi pertempuran sesungguhnya. Keduanya tewas.
Catatan
Kopi 35 mm judul ini dapat diakses dari Koleksi Sinematek Indonesia.

Kisah Kepahlawanan Ki Banteng Blorok Melawan Tentara Belanda

Oleh: Ferry Riyandika, Alumnus Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang

Pada Agressi Militer Belanda II Karisedenan Kediri hingga kota-kota lain disekitarnya dalam waktu sebulan dapat dikuasai oleh Belanda. Akibat tindakan tersebut seluruh kekuatan TNI dan Batalyon Pelajar Pejuang Bersenjata khususnya TRIP di Jawa Timur dikerahkan untuk menguasai daerah-daerah di utara Sungai Brantas (Blitar, Kediri, Malang). Hal ini karena TNI dan Batalyon TRIP/ Jawa Timur masih menguasai daerah di Selatan Sungai Brantas (Kalidawir, Sumbergempol, Ngunut, Rejotangan, Kademangan, Lodoyo, dan Binangun).

Salah satu peristiwa heroik yang dilakukan para pejuang (TNI dan Batalyon TRIP/ Jawatimur khususnya Karisidenan Kediri) adalah perjalanan untuk mengamankan Meriam gempur Banteng Blorok. Meriam ini berasal dari Boffors, Swedia. Nama Banteng Blorok mengambil dasar makna bahwa meriam ini dibuat di Kedung Banteng (Solo), dan bercat samaran belang-belang/blorok.

Pada Tahun 1940-1942, meriam ini digunakan KNIL-Tentara penjajahan Belanda untuk melawan Jepang. Akan tetapi, pada tahun 1942-1945, meriam ini malah jatuh ke tangan Jepang dan digunakan untuk melawan sekutu. Tahun 1945, meriam ini direbut Indonesia dari Jepang dan elanjutnya, meriam ini dipergunakan untuk melawan Belanda dan sekutu dalam aksi militer 1. Pada tanggal 18 September 1948, meriam ini menjadi senjata ampuh dalam menumpas PKI/Musso/FDR di daerah Madiun dan sekitarnya.Pada tanggal 19 Desember 1948 (Agresi Militer II), meriam Banteng Blorok ini membantu perlawanan Indonesia terhadap Belanda dalam Agresi Militer 2 di Jombang, Tulungagung, Jembatan Ngujang. Perjuangan terakhir meriam ini bersama Indonesia diperlihatkan pada tanggal 29 Desember 1948, dalam rangka perang gerilya Indonesia yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman melawan Belanda. Perlawanan sengit ini berlangsung di daerah Tulungagung dan sekitarnya.

Pada tahun 3 Agustus 1949, meriam Banteng Blorok dikonsolidasikan bersama senjata-senjata lainnya yang tersisa setelah perang gerilya. Pada tahun 1951, meriam ini dipindahkan ke Jl Kesatrian, Malang. Tahun1953, meriam ini menghiasi pusat pendidikan artileri di Cimahi. Tahun 1954, meriam ini diletakkan di pintu gerbang Yon Armed 5-76, Cipanas sebagai hiasan kebanggaan.Tahun 1974, meriam ini ditarik ke pusat Armed TNI Cimahi. Oleh karena tingginya nilai sejarah dari meriam ini, maka pada tanggal 28 Februari 1975, meriam Banteng Blorok resmi diabadikan di Wisma Juang ’45. (Kompleks Museum TNI Satriamandala) di Jakarta.

Adapun kisah perjalanan Meriam Banteng Blorok ini bermula pada saat Kolonel Sungkono selaku Panglima Divisi-I/ Jawa Timur dan Batalyon TRIP/ Jawa Timur mendapatkan satu pucuk meriam gempur Banteng Blorok di Campurdarat, karena lambannya pergerakan meriam ini maka Kolonel Sungkono melimpahkan mandat kepada Kompi-4/ Widarbo dengan Komandan Pasukan Pengawal Batalyon Batalyon TRIP/ Jawa Timur Duriatmojo. Sebelumnya Markas Komando Utama TRIP/ Jawatimur berada di Gabru, Desa Tegalsari, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, dipindahkan ke di Desa Dawuhan, Kabupaten Trenggalek. Namun karena tekanan Belanda akhirnya markas di pindahkan lagi pada tahun 1949 di Perkebunan Kawisari, yang selanjutnya di tempatkan di Perkebunan Pijiombo, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar.

Bermula dari Trenggalek (Dawuhan) bersama Batalyon TRIP/ Jawa Timur guna menduduki markas baru di Kawisari akhirnya Batalyon ini menuju ke timur menuju Campurdarat (Tulungagung). Setiba di Domasan, Kalidawir mulailah perjalanan Meriam Gempur Banteng Blorok dengan kawalan Batalyon TRIP/ Jawa Timur dengan Komandan Duriatmojo menuju ke timur ke Desa Panjer. Setiba di Ngunut Pasukan sebagian pengawal meriam ini diperintah untuk membantu TNI di Ngunut guna menahan gerak laju Belanda di Sumbergempol, sisanya meneruskan perjalanan pengawalan Meriam Banteng Blorok ke Rejotangan di Desa Sumberagung. Disini Meriam ini mendapatkan teman yaitu Meriam Macan Ucul dan berduel dengan Meriam Houwitzer milik Belanda di Blitar. Keesok harinya pecahlah pertempuran di daerah Rejotangan karena Belanda berhasil menyusup ke Rejotangan. Maka dengan perintah Kampten Dedek Sumartono agar Meriam Banteng Blorok segera dibawa ke Binangun, Blitar yang telah dikuasai oleh TNI. Sedangkan Meriam Macan Ucul ditinggal di Desa Sumberagung karena bannya bocor guna tidak menghambat laju pergerakan ke Binangun.

Adapun Rute yang ditempuh dari Sumberagung (Rejotangan) meneruskan perjalanan ke Jimbe menuju Plumpungrejo, Tenggong, Sumberjati, Plosorejo, Darungan, Gunung Betet, Dadapan, hingga sampai di Sutojayan (Lodoyo) dalam perjalanan ini tidak terjadi pertempuran dengan Belanda, namun sampai di Sutojayan pertempuran antara Batalyon TRIP dengan Belanda berkobar kembali, dengan siasat tipu muslihat memancing Belanda kearah selatan, Meriam Benteng Blorok menuju ke timur hingga sampai Dukuh Judeg dan menuju ke Dukuh Kemetiran, Desa Panggongrejo, Kecamatan Panggungrejo. Namun karena di Binangun terjadi perubahan situasi maka Meriam Banteng Blorok segera di selamatkan di Gunung Gedang lereng Gunung Kelud, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari. Akhirnya route perjalanan dari Dukuh Kemetiran, Desa Panggongrejo menuju ke utara menembus Hutan Jati di Banaran hingga sampai di Desa Kaulon (Kecamatan Sutojayan) dan menyeberang sungai Brantas.

Setelah menyeberang sungai Brantas, Ki Banteng Blorok sampai di Desa Jabung. akhirnya meneruskan rute menuju Gunung Gedang melalui Desa Jeblog, Bendosewu, Pasiraman, Pasirarjo, Wlingi hingga sampai di Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari ditempuh dengan tiga hari tiga malam dengan keadaan aman tanpa halangan berarti. Sesampai di Desa ini Meriam Banteng Blorok diarahkan ke utara yaitu menuju Dukuh Maenjangan Kalung. Hal ini rupanya tepat sekali kareana di Dukuh Kemloko terjadi pertempuran hebat antara sebagian Batalyon TRIP/ Jawa Timur dengan tentara Belanda. Guna menyelamatkankan meriam tersebut maka perjalanan Batalyon TRIP/ Jawa Timur dilanjutkan menuju ke Dukuh Glodang, terus ke Dukuh Wringin kembar (Wringin branjang) hingga menuju Perkebunan Karet, Petung Ombo di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum.

Pada Bulan Mei 1949 Meriam Banteng Blorok melakukan perjalanan lagi menuju ke Desa Krisik, sesampainya di desa ini meriam tersebut ditempatkan di sebuah tepian di Dukuh Tirtomoyo dengan larasnya di arahkan ke Wlingi. Selang kurang lebih 3 bulan yaitu pada bulan Juli 1949, Meriam Ki Banteng Blorok dijemput oleh kesatuan induknya Bateray-I Artileri/ Batalyon-C/ Divisi I/ Jawa Timur dengan menggunakan truck untuk di tempatkan kembali di Desa Pangkal Tulungagung. Setelah itu Meriam tersebut dipindahkan ke Komando Artileri Divisi I/ Jawa Timur di Nganjuk pada tanggal 3 Agustus 1949.

Dengan uraian diatas akan perjungan Batalyon TRIP/ Jawa Timur yang sangat membanggakan bersungguh-sungguh untuk melindungi dan mengamankan sepucuk Meriam Banteng Blorok, kiranya membuat kita sadar akan perjuangan para pelajar pada masa kemerdekaan. Oeh karena itu kiranya kita sebagi generasi muda mempunyai semangat jiwa nasional yang tinggi, alangkah baiknya kita berupaya berjuang sekuat tenaga mempertahankan kemerdekaan Indonesia tanpa pamrih di era globalisasi ini.

Oleh: Ferry Riyandika, Alumnus Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang

Pada Agressi Militer Belanda II Karisedenan Kediri hingga kota-kota lain disekitarnya dalam waktu sebulan dapat dikuasai oleh Belanda. Akibat tindakan tersebut seluruh kekuatan TNI dan Batalyon Pelajar Pejuang Bersenjata khususnya TRIP di Jawa Timur dikerahkan untuk menguasai daerah-daerah di utara Sungai Brantas (Blitar, Kediri, Malang). Hal ini karena TNI dan Batalyon TRIP/ Jawa Timur masih menguasai daerah di Selatan Sungai Brantas (Kalidawir, Sumbergempol, Ngunut, Rejotangan, Kademangan, Lodoyo, dan Binangun).

Salah satu peristiwa heroik yang dilakukan para pejuang (TNI dan Batalyon TRIP/ Jawatimur khususnya Karisidenan Kediri) adalah perjalanan untuk mengamankan Meriam gempur Banteng Blorok. Meriam ini berasal dari Boffors, Swedia. Nama Banteng Blorok mengambil dasar makna bahwa meriam ini dibuat di Kedung Banteng (Solo), dan bercat samaran belang-belang/blorok.

Pada Tahun 1940-1942, meriam ini digunakan KNIL-Tentara penjajahan Belanda untuk melawan Jepang. Akan tetapi, pada tahun 1942-1945, meriam ini malah jatuh ke tangan Jepang dan digunakan untuk melawan sekutu. Tahun 1945, meriam ini direbut Indonesia dari Jepang dan elanjutnya, meriam ini dipergunakan untuk melawan Belanda dan sekutu dalam aksi militer 1. Pada tanggal 18 September 1948, meriam ini menjadi senjata ampuh dalam menumpas PKI/Musso/FDR di daerah Madiun dan sekitarnya.Pada tanggal 19 Desember 1948 (Agresi Militer II), meriam Banteng Blorok ini membantu perlawanan Indonesia terhadap Belanda dalam Agresi Militer 2 di Jombang, Tulungagung, Jembatan Ngujang. Perjuangan terakhir meriam ini bersama Indonesia diperlihatkan pada tanggal 29 Desember 1948, dalam rangka perang gerilya Indonesia yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman melawan Belanda. Perlawanan sengit ini berlangsung di daerah Tulungagung dan sekitarnya.

Pada tahun 3 Agustus 1949, meriam Banteng Blorok dikonsolidasikan bersama senjata-senjata lainnya yang tersisa setelah perang gerilya. Pada tahun 1951, meriam ini dipindahkan ke Jl Kesatrian, Malang. Tahun1953, meriam ini menghiasi pusat pendidikan artileri di Cimahi. Tahun 1954, meriam ini diletakkan di pintu gerbang Yon Armed 5-76, Cipanas sebagai hiasan kebanggaan.Tahun 1974, meriam ini ditarik ke pusat Armed TNI Cimahi. Oleh karena tingginya nilai sejarah dari meriam ini, maka pada tanggal 28 Februari 1975, meriam Banteng Blorok resmi diabadikan di Wisma Juang ’45. (Kompleks Museum TNI Satriamandala) di Jakarta.

Adapun kisah perjalanan Meriam Banteng Blorok ini bermula pada saat Kolonel Sungkono selaku Panglima Divisi-I/ Jawa Timur dan Batalyon TRIP/ Jawa Timur mendapatkan satu pucuk meriam gempur Banteng Blorok di Campurdarat, karena lambannya pergerakan meriam ini maka Kolonel Sungkono melimpahkan mandat kepada Kompi-4/ Widarbo dengan Komandan Pasukan Pengawal Batalyon Batalyon TRIP/ Jawa Timur Duriatmojo. Sebelumnya Markas Komando Utama TRIP/ Jawatimur berada di Gabru, Desa Tegalsari, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, dipindahkan ke di Desa Dawuhan, Kabupaten Trenggalek. Namun karena tekanan Belanda akhirnya markas di pindahkan lagi pada tahun 1949 di Perkebunan Kawisari, yang selanjutnya di tempatkan di Perkebunan Pijiombo, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar.

Bermula dari Trenggalek (Dawuhan) bersama Batalyon TRIP/ Jawa Timur guna menduduki markas baru di Kawisari akhirnya Batalyon ini menuju ke timur menuju Campurdarat (Tulungagung). Setiba di Domasan, Kalidawir mulailah perjalanan Meriam Gempur Banteng Blorok dengan kawalan Batalyon TRIP/ Jawa Timur dengan Komandan Duriatmojo menuju ke timur ke Desa Panjer. Setiba di Ngunut Pasukan sebagian pengawal meriam ini diperintah untuk membantu TNI di Ngunut guna menahan gerak laju Belanda di Sumbergempol, sisanya meneruskan perjalanan pengawalan Meriam Banteng Blorok ke Rejotangan di Desa Sumberagung. Disini Meriam ini mendapatkan teman yaitu Meriam Macan Ucul dan berduel dengan Meriam Houwitzer milik Belanda di Blitar. Keesok harinya pecahlah pertempuran di daerah Rejotangan karena Belanda berhasil menyusup ke Rejotangan. Maka dengan perintah Kampten Dedek Sumartono agar Meriam Banteng Blorok segera dibawa ke Binangun, Blitar yang telah dikuasai oleh TNI. Sedangkan Meriam Macan Ucul ditinggal di Desa Sumberagung karena bannya bocor guna tidak menghambat laju pergerakan ke Binangun.

Adapun Rute yang ditempuh dari Sumberagung (Rejotangan) meneruskan perjalanan ke Jimbe menuju Plumpungrejo, Tenggong, Sumberjati, Plosorejo, Darungan, Gunung Betet, Dadapan, hingga sampai di Sutojayan (Lodoyo) dalam perjalanan ini tidak terjadi pertempuran dengan Belanda, namun sampai di Sutojayan pertempuran antara Batalyon TRIP dengan Belanda berkobar kembali, dengan siasat tipu muslihat memancing Belanda kearah selatan, Meriam Benteng Blorok menuju ke timur hingga sampai Dukuh Judeg dan menuju ke Dukuh Kemetiran, Desa Panggongrejo, Kecamatan Panggungrejo. Namun karena di Binangun terjadi perubahan situasi maka Meriam Banteng Blorok segera di selamatkan di Gunung Gedang lereng Gunung Kelud, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari. Akhirnya route perjalanan dari Dukuh Kemetiran, Desa Panggongrejo menuju ke utara menembus Hutan Jati di Banaran hingga sampai di Desa Kaulon (Kecamatan Sutojayan) dan menyeberang sungai Brantas.

Setelah menyeberang sungai Brantas, Ki Banteng Blorok sampai di Desa Jabung. akhirnya meneruskan rute menuju Gunung Gedang melalui Desa Jeblog, Bendosewu, Pasiraman, Pasirarjo, Wlingi hingga sampai di Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari ditempuh dengan tiga hari tiga malam dengan keadaan aman tanpa halangan berarti. Sesampai di Desa ini Meriam Banteng Blorok diarahkan ke utara yaitu menuju Dukuh Maenjangan Kalung. Hal ini rupanya tepat sekali kareana di Dukuh Kemloko terjadi pertempuran hebat antara sebagian Batalyon TRIP/ Jawa Timur dengan tentara Belanda. Guna menyelamatkankan meriam tersebut maka perjalanan Batalyon TRIP/ Jawa Timur dilanjutkan menuju ke Dukuh Glodang, terus ke Dukuh Wringin kembar (Wringin branjang) hingga menuju Perkebunan Karet, Petung Ombo di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum.

Pada Bulan Mei 1949 Meriam Banteng Blorok melakukan perjalanan lagi menuju ke Desa Krisik, sesampainya di desa ini meriam tersebut ditempatkan di sebuah tepian di Dukuh Tirtomoyo dengan larasnya di arahkan ke Wlingi. Selang kurang lebih 3 bulan yaitu pada bulan Juli 1949, Meriam Ki Banteng Blorok dijemput oleh kesatuan induknya Bateray-I Artileri/ Batalyon-C/ Divisi I/ Jawa Timur dengan menggunakan truck untuk di tempatkan kembali di Desa Pangkal Tulungagung. Setelah itu Meriam tersebut dipindahkan ke Komando Artileri Divisi I/ Jawa Timur di Nganjuk pada tanggal 3 Agustus 1949.

Dengan uraian diatas akan perjungan Batalyon TRIP/ Jawa Timur yang sangat membanggakan bersungguh-sungguh untuk melindungi dan mengamankan sepucuk Meriam Banteng Blorok, kiranya membuat kita sadar akan perjuangan para pelajar pada masa kemerdekaan. Oeh karena itu kiranya kita sebagi generasi muda mempunyai semangat jiwa nasional yang tinggi, alangkah baiknya kita berupaya berjuang sekuat tenaga mempertahankan kemerdekaan Indonesia tanpa pamrih di era globalisasi ini.

Source: http://pedomannusantara.com/