SOEWANDI GUGURPENCIPTA LAGU TEMANKU PAHLAWAN

(SAMBUNGAN) oleh : Mas H. Setyo Kasnan.

Dengan melihat serangan-serangan yang demikian dahsyatnya dan tepatnya tembakan-tembakan itu, kita perkirakan bahwa musuh sudah jauh mengetahui kedudukan pertahanan TRIP Tambaksari, karena dua hari sebelumnya pertempuran mereka telah mempersiapkannya hendak menggempur pertahanan TRIP dan sekitarnya, hal ini dapat dibuktikan bahwa 2 hari sebelumnya ada aplosan, seorang mata-mata musuh tertangkap oleh pasukan Polisi istimewa.

Pada saat-saatnya kami sedang asyiknya membidik dan menembak kesasaran musuh jauh di depan, menghebatlah hujan peluru dan ledakan-ledakan peluru mortir, kanon dan bom-bom yang berjatuhan ke kanan kiri pertahanan Tambaksari. Telingaku terasa pekak dan penglihatan mulai kabur, karena debu yang berterbangan dan asap bau mesiu mulai menutup udara menjadi gelap di seluruh pertahanan kami. Karena keadaan yang demikian kami mengambil keputusan untuk memindahkan stelling mundur guna menghindari sasaran tembakan-tembakan dan mortir-mortir yang hampir selalu tepat mengenai kami.

Begitu hebatnya serangan musuh sampai debu tanah yang bongkah beterbangan mengepul mengotori udara. Bongkah-bongkahan tanah terbongkar karena ledakan-ledakan peluru meriam dan mortir sangat membisingkan telinga. Aku bangkit dan mau pindah ke belakang, tetapi dicegah oleh mas Pansa Tampobolon alm. yang mengeram setengah marah sambil
menodongkan pistolnya parabellem Jepang ke saya dengan berteriak jangan mundur tetap bertahan sampai titik darah penghabisan !.Sebentar-sebentar dia membantu menembakkan mitraliyur water mantel yang sudah panas loopnya.

Mendadak saya dengar teriakan-teriakan teman sdr. Fakihudin lengannya kena peluru dengan cepat sekali sdr. Taslim Umar alm. menolongnya dan membalut lukanya dengan stiwel dan darahnya mengalir ditanah dengan derasnya. Musuh makin ganas dengan tembakan meriam dan mortir makin gencar menembaki stelling kami. Desingan peluru-peluru senapan mesin berseliweran diatas kepala kami. Sdr. Fakihudin di tolong dan dibopong oleh mas Taslim alm. ke belakang ke tempat yang lebih aman untuk diberikan pertolongan.
Namun sial juga sdr. Taslim Umar alm. yang sedang menggendong Fakihudin kena peluru dan jatuh juga, lalu di tolong sdr. Soedjadi alm. dan sdr. Soepardi alm., rupa-rupanya mereka dikejar dan dibuntuti peluru-peluru musuh.

Sementara kami terus bertahan sampai hari sudah menunjukkan sore suara tembak-tembakan sudah mulai jarang dan mereda, namun ledakan mortir dan meriam masih berjatuhan di kanan-kiri pertahanan mas TRIP dan kami belum berani keluar dari stelling, baru setelah keadaan sepi dan hari sudah mulai petang kami berkumpul dan baru diketahui teman-teman yang jatuh korban yaitu sdr. Soewandi (pengarang Syair “Temanku Pahlawan”) gugur dan jenasahnya diangkat ke pos Palang Merah dan yang luka-luka sdr.Basmarrachman, Mommy, Kosim, Koento, dan Taslim.

Mereka yang gugur dan luka-luka di baringkan di balai¬balai yang di buat dari bambu dari gubuk-gubuk yang ada disawah untuk balai-balai usungan, selanjutnya diusung ke desa Karangasem untuk di naikkan ke mobil ambulan bersama-sama dibawa ke rumah sakit Gatul Mojokerto.

Dari 7 orang pasukan mas TRIP yang
luka-luka dalam pertempuran di desa Tambaksari seorang diantaranya gugur ialah sdr. Soewandi, tiga orang menjadi cacat seumur hidup ialah sdr. Fakihudin, sdr. Mommy, sdr. Drs. Basmarrachman alm. sedangkan tiga orang lainnya luka-luka ringan adalah sdr. Taslim Umar alm. , sdr. Kosim, sdr. Koento Wibisono.

Sedangkan sdr. Soewandi yang gugur jenasahnya dibungkus kain kafan dimasukkan ke dalam peti di makamkan di Taman Makam Pahlawan dengan ucapan militer. Sdr. Soewandi gugur sebagai kusuma bangsa adalah pelajar SMT yang cerdas dan disayangi oleh para pengajarnya, sehingga dengan gugurnya sdr. Soewandi banyak kalangan handai taulan merasa kehilangan, disalah satu sakunya diketemukan sebagai warisan secarik kertas kumal yang ditulisnya syair “Temanku Pahlawan” yang sangat mengharukan, yang kemudian digubah menjadi lagu oleh sdr. Abdus Saleh dengan irama yang mengharukan pula.

Ini adalah sekilas dari sekian banyak pertempuran yang kami alami sejak pertempuran itu kami di pukul mundur oleh musuh yang senjatanya lebih jauh unggul dan modern dan mereka lebih dewasa dalam pengalaman perang dunia ke II, namun kami mempunyai semangat pantang menyerah kami senantiasa maju ke garis depan dengan semangat yang membaja, dengan bersemboyankan “MERDEKA LEBIH DAHULU, BERSEKOLAH KEMUDIAN” dan kapan lagi kita berjuang untuk nusa dan bangsa kalau tidak sekarang ini juga.

Ternyata dari semboyan patriotik heroik inilah semboyan TRIP yang pada Pebruari 1946 terdiri dari pasukan yang ‘tadinya dua seksi bagian terbesar pelajar¬pelajar dari Surabaya itu seolah-olah merupakan inti pionir yang kemudian di ikuti jejaknya oleh pelajar-pelajar daerah lainnya seantero tanah air dan merupakan pasukan pelajar pejoang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang selanjutnya tergabung dalam Det I, II dan III Brigade XVII.
~SELESAI~