Tatkala almarhum Soewandi menciptakan syair lagu “Temanku Pahlawan” yang mengandung kata-kata “Perjuangan kuteruskan sampal ke akhir zaman”, sangat boleh jadi kakak Mas Tikno (Bat. 1000) itu belum sampai membayangkan perjuangan macam apa yang harus diteruskan sampai kapan pun itu. Dan bahwa rangkuman kata-kata itu ternyata kemudian menjadi makin bertuah. Lagu itu dicip-takan oleh almarhum Abdus Saleh disertat syairnya Mas Wandi di tahun 1946 nun di desa Parengan/Jetis yang menjadi basis konsentrasi pasukan-pasukan tentara pelajar TRIP.

Masa itu sarat dengan pertempuran- pertempuran melawan tentara Sekutu. Maka apabila yang dimaksud dengan perjuangan kala itu lebih banyak bernuansa perang, bertempur melawan dan mengusir penjajah, dapatlah dimaklumi. Secara jujur haruslah diakui bahwa dimasa itu angan-angan untuk berjuang terus (secara fisik) setelah penjajah tidak ada, belumlah masuk hitungan. Bagi orang-orang muda remaja yang sibuk bertempur masa itu, istilah “perjuangan” belum lagi mencakup hal-hal yang bukan bersifat fisik. Perjuangan itu ya bertempur melawan Sekutu belaka.

Akan tetapi bahwa dalam lagu yang mengharukan itu ada pula kata-kata “sampai ke akhir zaman”, menimbulkan praduga : apakah prediksi sang pencipta syair adalah bahwa perang kemerdekaan bakal berlangsung lama sekali, berzaman-zaman; apakah itu merupakan ungkapan tekad/kesanggupan untuk berjuang selama- lamanya; atau imaginasi Mas Wandi memang telah bermuatan gambaran tentang bakal adanya tak sedikit masalah-masalah yang memerlukan perjuangan untuk membereskannya.

Kata-kata “perjuangan kuteruskan sampai ke akhir zaman” Itu beberapa tahun belakangan ini membersit-bersit lagi di kalangan kita. Mungkin antara lain gara-gara diungkapkan Mas Biek dalam sarasehan di Lemhanas beberapa tahun yl., atau diam-diam memang terus membara dalam kalbu banyak teman-teman. Pertukaran- pertukaran fikiran menjelang terbangunnya Paguyuban MAS TRIP pun sering memunculkan rangkaian kata-kata khas itu.

Bahkan Mukadimah/Pembukaan AD-ART Paguyuban kita tak lupa pula mencantumkan kata-kata “Dengan semboyan Perjuangan kuteruskan sampal ke akhir zaman, maka generasi penerus Keluarga Besar ex TNI Brigade 17 Detasemen I TRIP Jawa TimurĀ  ” Prinsip perjuangan (non fisik) yang masih harus diteruskan tercermin pula dalam kalimat-kalimat”.

Nilai-nilai dan semangat perjuangan tentara pelajar, pengabdian, kerakyatan, kesetia-kawanan, dan pengorbanan untuk negara dan bangsa perlu dipelihara dan dilestarikan serta disebar tanamkan kepada seluruh Rakyat Indonesiaguna diteruskan dalam perjuangan pembangunanIndonesiadalam mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Selanjutnya ada pula kalimat yang men-cerminkan itikad penerusan perjuangan dalam abad Azas dan Tujuan (Pasal 3 ayat 3) yang berbunyi : Bersama generasi penerus tetap memperjuangkan agar bangsaIndonesiatumbuh dan berkembang dengan semakin mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri dalam upaya mewujudkan kehidupan yang dst. nya.

Berjuang adalah memang sesuatu kodrat yang tersandang pada manusia. Hidup itu sendiri sudah merupakan (dan mengandung) serba perjuangan. Dan bagi yang pernah berperan serta dalam perjuangan merebut dan membela kemerdekaan, upaya untuk meng-isi/menyempurnakan kemerdekaan yang ternyata cukup rumit, memang pantas dianggap sebagai perjuangan.

Membangun masyarakat adil-makmur, mencerdaskan bangsa, mensejahterakannya, mengangkat harkat kehidupannya, men-sejajarkan martabat bangsa dengan bangsa-bangsa lain, melestarikan nilai-nilai luhur dan menegakkan Pancasila, adalah hal-hal yang memang masih harus terus diperjuangkan , kendati negera kita telah tak kurang darl 50 tahun merdeka. Dan bagi para perjuang kemerdekaan, “Perjuangan versi baru” itu mau tak mau memang sulit untuk dihindari sebagai konsekwensi “terlanjur jadi pejuang”.

“Sebagai generasi pendahulu. MASTRIP memang dituntut untuk dapat mewariskan nilai-nilai, semangat dan cita-cita perjuangan bangsaIndonesiakepada generasi muda. Namun disamping itu MAS TRIP juga diharapkan untuk terus memperhatikan dan mengantisipasi perkembangan dan permasalahan dalam masa pembangunan ini”. kata Pak Bupati Jombang Soewoto Adiwibowo pada upacara per-letakan batu pertama pembangunan Balai Perpustakaan MASTRIP di Jombang 21 Nopember’94 yang lalu.

Tak salahlah jika Mas Djoko menganggap pidato Pak Woto itu sangat penting, dan memuatkannya dalam Buletin MASTRIP Desember 1994.

 

Jakarta4 Maret 1995

Priyo Sanyoto